Keharmonisan Budaya Banyuwangi Puter Kayun dan Watudodol

Keharmonisan Budaya Banyuwangi Puter Kayun dan Watudodol – Indonesia di kenal sebagai negara yang kaya akan budaya dan tradisi lokal. Salah satu tradisi unik yang masih dilestarikan adalah Puter Kayun, sebuah ritual khas masyarakat Banyuwangi, Jawa Timur. Tradisi ini biasanya di lakukan rajamahjong login setiap tahun pada tanggal 1 Syawal, bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri, dan berpusat di kawasan Watudodol, pantai yang menjadi pintu gerbang menuju Pulau Bali.

Sejarah dan Makna Puter Kayun

Tradisi Puter Kayun berakar dari kebiasaan leluhur suku Using, suku asli Banyuwangi, yang melakukan perjalanan bersama ke Pantai Watudodol untuk “menghirup udara baru” setelah Ramadan. “Puter Kayun” secara harfiah berarti “berputar kayun” atau “berkeliling dengan niat”. Kegiatan ini bertujuan untuk membersihkan diri, mempererat tali silaturahmi, dan mengucap syukur atas rezeki serta keberkahan selama setahun terakhir.

Dalam pelaksanaannya, warga menggunakan situs judi bola dokar atau andong yang dihias dengan warna-warni. Iring-iringan ini menjadi simbol kerukunan dan kebersamaan masyarakat. Peserta juga membawa hasil bumi dan berbagai sajian khas sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Peran Watudodol dalam Tradisi

Watudodol, lokasi utama Puter Kayun, memiliki nilai historis dan simbolis bagi masyarakat Banyuwangi. Batu besar yang berdiri kokoh di pantai ini menjadi ikon budaya lokal. Selain sebagai tempat pelaksanaan ritual, Watudodol juga dipercaya memiliki makna spiritual yang mendalam, yaitu sebagai penanda peralihan energi positif bagi peserta tradisi.

Di Watudodol, peserta Puter Kayun biasanya melaksanakan doa bersama, dilanjutkan dengan ritual simbolis seperti melepaskan sesajen ke laut. Prosesi ini diyakini sebagai cara untuk menjaga harmoni dengan alam dan leluhur.

Melestarikan Tradisi di Era Modern

Di tengah era modernisasi, tantangan dalam melestarikan tradisi seperti Puter Kayun cukup besar. Namun, pemerintah daerah Banyuwangi terus berupaya menjadikan tradisi ini sebagai daya tarik wisata budaya. Festival Puter Kayun kini dirancang lebih inklusif, dengan melibatkan wisatawan lokal maupun mancanegara. Dokumentasi digital dan promosi melalui media sosial juga dilakukan untuk menarik generasi muda agar turut melestarikan budaya ini.

Kesimpulan

Puter Kayun dan Watudodol adalah simbol kebersamaan, syukur, dan harmoni yang telah diwariskan oleh leluhur masyarakat Banyuwangi. Dengan berbagai upaya modernisasi tanpa meninggalkan nilai-nilai asli, tradisi ini dapat terus hidup dan menjadi warisan budaya yang membanggakan bagi generasi mendatang.